Tak Disangka!!! Kontester Indonesia Ternyata Malas Membaca

Tak Disangka!!! Kontester Indonesia Ternyata Malas Membaca

CQ WPX CW 2017. Kontes yang satu ini lumayan seru dan “siru” (bahasa gaul Palembang = heboh). Banyak hal yang terjadi pada waktu sehingga kontes ini memiliki kesan tersendiri. Serunya ya seperti biasa, pertarungan antara kontester yang peralatannya sederhana dengan kontester yang peralatannya super.

Nah bagian yang “siru” adalah masuknya saya di kategori HIGH Power. Tindakan saya ini ternyata memunculkan beragam komentar yang ditujukan kepada saya, mulai dari tidak mengerti aturan, melanggar rule, tidak sportif dan masih banyak lagi. Saya sangat terperangah menghadapi situasi itu, karena tidak ada yang salah tapi bikin siru (heboh).

Usut punya usut, rupanya banyak amatir radio Indonesia yang memaknai kategori HIGH Power adalah diperuntukkan “hanya” bagi mereka yang memancar lebih dari 100 watt, bahkan ada yang lebih ekstrim lagi memandang bahwa HIGH Power itu sama dengan lisensi penggalang/penegak jadi yang boleh masuk di kategori HIGH Power hanya mereka yang memgang lisensi penggalang dan penegak, jika ada lisensi siaga masuk di kategori HIGH Power maka itu adalah sebuah pelanggaran. Saya tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi tapi kenyatannya ternyata hampir semua amatir di Indonesia berpandangan seperti itu. Saya khawatir ini akibat dari paradigma senior/junior yang tertanam dalam dunia amatir radio di Indonesia. Sehingga yang terjadi adalah setiap pendapat/perkataan seorang senior maka hal itu dianggap  benar dan wajib diikuti, sedangkan sesungguhnya senior itu telah salah berasumsi tapi karena dia telah menyandang status senior ya yang junior menganggap tetap benar.

 

Dalam rule kontes CQ WPX CW, dijelaskan bahwa setiap peserta dibebaskan memilih kelompok kategori yang dipandang sesuai dengan kondisi stasiunnya pada waktu mengikuti kontes, namun tetap harus memenuhi syarat-syarat yang ada pada masing-masing kelompok kategori. Sebagai contoh, saya ikut kontes hanya sendirian maka saya boleh masuk dalam kelompok Single OP karena syarat kategori Single OP adalah operatornya tidak lebih dari 1 orang, lalu bolehkah saya masuk ke dalam kategori Multi OP? Ya boleh dong, yang tidak boleh adalah jika saya ikut kontes dengan operator 3 orang lalu masuk dikategori Single OP nah itu yang melanggar rule karena syarat Single OP adalah operatornya tidak lebih dari 1 orang. Jangan anda mengerenyitkan dahi anda seolah-olah merasakan sesuatu yang aneh, kita tidak berbicara aneh atau tidak logis atau tidak etis, yang kita bicarakan disini adalah boleh atau tidak berdasarkan rule kontes yang sudah diatur oleh panitia bukan perasaan kita.

Yang diatas tadi kelompok kategori berdasarkan jumlah Operator, begitu juga dengan kelompok kategori kekuatan pemancar. Panitia membuat kelompok kategori berdasarkan kekuatan pemancar dari peserta. Kelompok pertama adalah QRP, jika anda ingin masuk dalam kategori ini maka pancaran anda tidak boleh lebih dari 5 watt, lalu LOW Power, jika anda ingin masuk kategori ini maka jangan memancar lebih dari 100 watt, dan terakhir adalah HIGH Power yang tidak boleh lebih dari 1500 watt. Nah… Rupanya telah terjadi salah persepsi atau asumsi dalam menterjemahkan aturan QRP, Low dan High Power, seolah-olah diasumsikan bahwa QRP adalah 0-5 watt, Low Power adalah 5-100 watt, High Power adalah 100-1500 watt. Jadi kalau ada yang memancar 5 watt maka peserta itu hanya boleh masuk di kategori QRP tidak boleh di kategori Low atau HIGH Power. Senyatanya aturan yang dibuat oleh panitia kontes tidaklah demikian. Peserta tetap dibebaskan memilih kategori sepanjang memenuhi syarat, jadi jika ada peserta yang memancar hanya 3 watt boleh masuk di kategori QRP karena tidk lebih dari 5 watt, juga boleh masuk di Low Power karena tidak lebih dari 100 watt dan boleh juga masuk di kategori HIGH Power karena 3 watt tidak melebihi 1500 watt.

 

Selama kontes berlangsung, saya memancar sesuai dengan lisensi saya yaitu 100 watt, karena itu saya tidak dapat masuk di kategori QRP karena pancaran saya lebih dari 5 watt, tetapi saya boleh masuk di kategori LOW Power karena pancaran saya tidak lebih dari 100 watt, namun juga tidak ada larangan jika saya ingin masuk di kategori HIGH Power karena batas maksimum kategori HIGH Power adalah 1500 watt sementara saya hanya memancar 100 watt. Banyak peserta lain yang memandang tindakan saya adalah suatu pelanggaran, sampai akhirnya ada yang bertanya langsung kepada panitia kontes dan ketua panitia kontes CQ memberikan penjelasan bahwa apa yang saya pahami adalah benar.

 

Kemudian masalah lain yaitu kenapa saya mengambil single band padahal saya juga ber-QSO di band lain. Disini juga terjadi salah pemahaman terhadap rule kontes (atau mungkin belum pernah baca rule secara lengkap). Padahal jelas sekali dalam rule tersebut dijelaskan bahwa setiap peserta dibolehkan untuk berQSO diseluruh band amatir sesuai dengan lisensi yang dimilikinya, dan jika peserta ingin mengambil kategori single band saja maka peserta harus tetap melaporkan QSOnya yang juga ada diband lain namun yang akan dihitung sebagai point hanyalah band yang dimaksud saja. Dalam kasus saya, dalam log saya berisi QSO pada band 10m, 15m, dan 40m, tetapi karena saya ingin masuk ke dalam kategori 15m, maka saya harus tetap mengirim log yg isinya 10m, 15m, dan 40m, namun pada saat perhitungan nilai nanti panitia hanya akan menghitung jumlah QSO saya di 15m saja. Lagi-lagi terdapat salah pemahaman, yang beredar adalah kalau log kita hanya 1 band maka masuk dikategori single band, jika log kita berisi lebih dari 1 band maka harus masuk di kategori ALL Band kalau masuk di kategori single band maka tidak sportif atau curang. Hahahaha……

Sesungguhnya apa yang telah saya lakukan adalah bagian dari sebuah strategi yang menurut pengalaman saya ini adalah strategi yang terbaik. Bagi saya, dalam mengikuti sebuah kontes itu prinsip utamanya adalah sedapat mungkin memancarlah diseluruh band (kecuali memang peralatan kita tidak memungkinkan) dan diseluruh mode jika modenya lebih dari 1 mode. Kita akan sangat rugi jika sedari awal kita sudah memagari diri kita hanya di 1 band atau di 1 mode, walaupun akhirnya kita akan masuk di kategori 1 band tetapi kita kan tidak dilarang untuk memancar diseluruh band. Hanya karena terpaku pada 1 band maka kita kehilangan kesempatan QSO dengan stasiun langka di band lain, rugi donk? Atau kita memutuskan untuk masuk di kategori 10m band tetapi ternyata propagasi menutup total pada band tersebut lalu tetap CQ di band itu? Kenapa kita tidak mendulang saja dulu di band lain sambil menunggu propagasi di 10m band terbuka? Katanya mau enjoy, masak nungguin dead band. Hahaha…. Lagipula kita tidak akan pernah tahu di band mana kita akan mendulang banyak QSO, bisa jadi malah diband yang tidak kita inginkan malah mendulang banyak QSO karena propagasi terbuka baik disana, jadi tentukanlah kategori pada saat kontes telah berakhir jadi kita sudah tahu perolehan skor kita seperti apa, kalau memang berat ikut di All Band ya pertimbangkan band mana yang paling banyak QSO-nya lalau masuk disingle band. Tenang saja tidak ada peraturan yang anda langgar.

Jadi setelah kontes selesai, maka saya mengamati hasil QSO yang saya lakukan selama kontes berlangsung, dari sana saya memutuskan bahwa yang paling mungkin untuk saya raih dalam kontes kali ini adalah pemecahan rekor skor indonesia untuk kategori Single OP HIGH Power 15 M, Karena itulah saya masuk di kategori itu. Saya tidak curang walaupun ada QSO saya di band 10 m dan 40 m tetapi panitia tidak menghitungnya sebagai point, jadi perolehan skor akhir saya murni berdasarkan QSO yang ada di band 15 m saja. Dan saya tetap enjoy, walau pun dibayang-bayangi oleh YD1SDL/2, YB8UTI dan YC9FAR yang bertahan di 15 m, karena pada saat propagasi 15 m menurun saya masih tetap menikmati kontes di 40 m. Asyiiikk…

Dari kejadian itu, saya sangat yakin sekali bahwa peserta kontes dari Indonesia tidak pernah mau membaca rule kontes secara menyeluruh, kebanyakan mereka mungkin hanya melihat jadwal, freekuensi dan pertukaran saja, selebihnya tidak pernah dibaca dan lebih mengandalkan asumsi. Contoh singkat saja ada peserta kontes CQ WW yang bertanya bagaimana kalau memancar lebih dari 36 jam, saya katakan tidak ada masalah mau mancar 48 jam pun boleh saja kalau memang kuat fisik, ternyata dia mendapat info dari kontester lain bukan membaca rule CQ WW, sedangkan pembatasan Single OP hanya boleh memancar maksimal 36 jam adalah rule kontes yang lain yaitu CQ WPX. Membaca dan memahami rule itu sangat penting terutama untuk mencegah jangan sampai kita melakukan pelanggaran yang berujung pada sanksi diskualifikasi. Dan paradigma senior junior juga berpengaruh terhadap salah kaprah berjamaah ini. Seakan sudah tertanam kalau senior berkata maka itu adalah fatwa yang harus ditaati dan diikuti, tanpa melihat kembali si senior itu benar atau salah. Sesungguhnya senior tetap akan dihormati junior karena senior sudah lebih dulu, tetapi kalau salah ya tidak pandang senior junior. Dan semoga hal ini bisa berubah, sehingga kualitas kontester dari Indonesia akan semakin maju dan lebih baik lagi.

Sampai jumpa di kontes derikutnya.

73,

De YD4IRS

 

Related posts