YD4IRS Akan Menurunkan Antenanya. Alasannya Bikin Merinding

YD4IRS Akan Menurunkan Antenanya. Alasannya Bikin Merinding

28 hingga 30 Oktober 2017 adalah hari dimana dilaksanakannya perhelatan kontes amatir radio terbesar di dunia, ribuan stasiun turut serta meramaikannya. Sedemikian padatnya frekuensi band amatir pada saat itu, mulai 1.8 Mhz hingga 28 Mhz tumpuk menumpuk, tumpah ruah. semua stasiun berlomba-lomba untuk melakukan kontak sebanyak-banyaknya sepanjang akhir pekan.

Tak ubahnya YD4IRS, juga turut serta meramaikan kontes ini. Namun karena kontes ini menggunakan mode phone, maka untuk mengatasi keterbatasan izin maka YD4IRS berakting sebagai YB4ZLZ.

Harapannya adalah dapat mendulang QSO di seluruh band amatir radio, apalagi ada plakat khusus untuk stasiun dari Indonesia yang diperebutkan. Semangat pejuang 45 membara saat kontes baru di mulai.

Namun cerita berkata lain, terjadi anomali terhadap performa antenna yang selama ini digunakan, yaitu Cushcraft R-9. Pada pagi hari sekitar pukul 7.00 hingga 10.00 di hari Sabtu cuaca cerah dan propagasi sangat baik di 21 Mhz, karenanya saya mendulang QSO disana, setelah beristirahat, sekitar pukul 14.00 saya berniat mengudara di 14 Mhz, tapi baru hunting beberapa stasiun saya melihat anomali itu, SWR antenna tak menentu power radio terukur hanya sekitar 60-70 watt padahal sudah diset 100 watt.

Kemudian saya mencoba pindah ke band 21 Mhz, ternyata anomali itu juga terjadi diband ini, seharusnya untuk mengudara di 21200 ke atas harus menggunakan tuner karena center matchnya adalah di 21010, tapi sekarang SWR malah nyender di 21300.

Saya coba pindah lagi ke band lain seperti 28 Mhz dan 7 Mhz ternyata semuanya berubah, tidak seperti setelan awal. Pada waktu itu hujan turun di sekitar KM-12 Palembang, saya memprediksi terjadi gangguan akibat air hujan yang mengenai antenna. Selama ini memang tidak disadari apalagi biasanya ketika hujan turun maka radio dimatikan. Namun karena tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendulang QSO selama kontes maka saya tetap berusaha untuk on air.

Keesokan harinya setelah beberapa jam matahari menghangatkan antenna dipagi hari, saya coba periksa kembali kondisi kerja stasiun saya, hasilnya semua pengukuran menunjukkan angka yang sama seperti waktu antena ini diset. Jadi dapat dipastikan ada sesuatu yang salah sehingga antenna ini seperti berubah ketika terkena air hujan.

Saya bertanya-tanya kepada beberapa teman, ada yang bilang “bocor” yaitu ada bagian antenna yang seharusnya selalu kering sekarang kemasukan air. Ada juga teman yang bilang bahwa studio saya kurang kemenyan. Juga ada yang mengatakan bahwa itu adalah sebagian dari dinamika kehidupan.

Inilah yang membuat saya galau, haruskah saya bertapa untuk mendapatkan petunjuk apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki kinerja antenna saya? Apakah saya harus cari pawang hujan? Atau menghubungi orang pintar terdekat?  Atau saya harus melakukan maintenace kembali pada antenna saya, padahal antenna ini baru 2 tahun berdiri. Belum lagi di penghujung bulan November akan dilaksanakan kontes CQ WW CW yang tentunya sangat menyakitkan hati jika tidak dapat berpartisipasi.

Dan saya sudah memutuskan untuk menurunkan untuk maintenance antenna saya dipenghujung bulan Desember tahun ini, semoga performanya dapat kembali normal seperti sediakala.

Related posts