Split Hingga 10KHz, Haruskah ?

Split Hingga 10KHz, Haruskah ?

Sebuah kegiatan DXPedition atau stasiun amatir radio khusus memang selalu dinanti oleh banyak amatir radio apalagi jika ekspedisi tersebut dapat memberikan banyak kredit kepada mereka yang berhasil QSO, misalnya kredit DXCC, WPX, IOTA dan kredit lainnya yang sangat berguna untuk pengajuan sebuah award.

Berbagai macam cara dilakukan oleh DX Hunter, mereka sanggup bertahan hingga berjam-jam didepan radio mereka hanya untuk mencari kesempatan untuk dapat kontak dengan 1 stasiun DXPedition. Tak heran, jika sebuah stasiun DXPedition mulai memanggil CQ maka ratusan amatir radio dari segala penjuru beramai-ramai menjawab panggilan CQ-nya.

Sedemikian ramainya amatir radio yang berusaha untuk QSO setiap stasiun DXPedition selalu menggunakan metode SPLIT. Metode split adalah cara komunikasi duplex yang mana 2 stasiun menggunakan frekuensi yang berbeda untuk mengirim dan menerima. Contoh YB90IARU transmit pada 21.080 dan mendengarkan pada 21.081, jika kita ingin ber-QSO dengannya maka kita harus memancar pada 21.081 dan mendengarkan pada 21.080.

Cara ini diyakini efektif untuk mengatasi bertumpuknya sinyal akibat puluhan bahan ratusan stasiun berusaha masuk secara serentak. dengan mode split maka YB90IARU akan tetap terdengar tanpa harus ikut “tertumpuk” oleh stasiun yang masih berusaha memanggil, sehingga stasiun lain yang memang dipanggil oleh YB90IARU tetap dapat mendengar dengan baik dan membalas panggilannya.

Penulis tidak menemukan aturan baku untuk penggunaan metode ini, namun secara umum yang mungkin telah menjadi kebiasaan metode split dilakukan dengan jarak 1 atau 2 KHz ke atas atau ke bawah, namun untuk mode SSB mungkin harus lebih dari 2 KHz karena bandwidth SSB yang mencapai 3 KHz jadi jarak splitnya diperlebar agar pancaran stasiun DX tetap dapat dimonitor dengan baik.

Namun dalam beberapa kegiatan, penulis mendapati sebuah stasiun yang sedang menghadapi pile-up memperlebar jarak split hingga 10KHz. Contoh yang penulis alami adalah pile-up VK9WA pada band 15 meter. VK9WA transmit pada frekuensi 21.020, dia hanya mengatakan “UP” artinya dia mendengarkan pada frekuensi diatas 21.020. Penulis menyayangkan sikap VK9WA yang tidak membatasi jarak splitnya dengan mengatakan “UP 1” atau “UP 1-2”. Akibatnya terjadi penggunaan frkuensi yang sangat lebar hanya untuk 1 kegiatan. Penulis memperhatikan bahwa sampai pada 21.030 masih ada stasiun yang split dengan VK9WA, padahal bandwidth pada mode CW tidak sampai 1KHz sehingga jika dilakukan split dengan jarak 1 atau 2 KHz seharusnya sudah sangat cukup untuk mengatasi pile-up.

Kebetulan pada saat VK9WA melakukan split hingga 10KHz, penulis juga sedang berusaha untuk mendapatkan kontak dengan YF1AR/8 yang transmit pada 21.022 dan secara tegas menyatakan split UP 1, penulis gagal kontak karena YF1AR/8 tertutup oleh sinyal stasiun lain yang memanggil VK9WA, bahkan penulis sempat mendengar beberapa stasiun yang memancar dengan pesan “YF1AR PSE QSY”. Dalam hati penulis berguman, apakah YF1AR/8 harus QSY? Dan terlihat jelas stasiun-stasiun lain peserta LZ DX Contest juga harus rela mengalah, menjauh dari frekuensi yang digunakan dalam pile-up VK9WA. Sebegitu spesial-kah stasiun DXPedition sehingga memiliki hak untuk menduduki frekuensi yang sangat lebar?

Terlepas dari perilaku amatir radio “DX Hunter” yang kadang-kadang justru membuat pile-up menjadi bertambah kacau, tetapi penulis berpendapat bahwa tertibnya sebuah pile-up adalah tanggungjawab stasiun DXPedition, sehingga kemahiran seorang operator DX dalam menghadapi pile-up memang sangat dibutuhkan agar semua stasiun yang memanggi dapat terjawab namun tidak menggunakan bandwidth yang besar akibat penggunaan jarak split yang lebar.

Related posts